Thursday, 19 February 2015

Mengukir untuk mengenangmu

Aku teringat dimana sang bulan purnama tertutup oleh awan hitam, angin malam bergerak kencang menusuk ke dalam kulitku, pohon-pohon rindang bergerak tertiup angin, disaat itu aku sedang berjalan menelusuri sungai di pinggir kota.

Aku terus berjalan hingga aku tidak menyadari bahwa aku telah berjalan sangat jauh dari kota. Ketika hendak memutar balik aku mendengar suara dari kejauhan. Karna aku penasaran aku terus mengikuti arah suara itu berasal, suara yang sangat tidak asing di telingaku.

Aku berjalan mengikuti suara itu berasal, hingga aku melihat sebuah bayangan di balik semak-semak. Tidak, dua bayangan. Aku terus mendekat hingga akhirnya menemukan mas Uta−kekasih hatiku−sedang becumbu dengan perempuan lain. Hati ini tersayat melihatnya. Aku terdiam, nafasku sesak, dan air mataku mulai meluap

Aku berlari meninggalkan semak-semak. Aku terus berlari, berlari dengan sekuat tenaga yang tersisa. Air mataku tak dapat terbendung lagi hingga aku harus berlari dengan linangan air mata.

Aku sangat tidak menyangka kau akan berselingkuh di belakangku mas. Mas, aku sangat mencintaimu dengan setulus hatiku mas. Aku ingin menikah denganmu mas, tapi kenapa kamu begini? Menusuk hatiku dari belakang. Kenapa mas Uta jahat sekali? Kenapa mas tega sama aku? Apa salahku mas? Aku terus bertanya-tanya dalam hati.

**

Pipi merah ini terus berlinang air mata setiap aku mengingat namanya, tapi aku tahu, aku harus kuat untuk menghadapi kenyataan bahwa mas Uta telah meninggal. Mas Uta meninggal karena sebuah penyakit kelamin yang dideritanya akibat kebiasaannya melakukan zina. Ya, ternyata ia melakukan hal yang sama seperti yang kulihat malam itu setiap malam, dengan wanita yang berbeda-beda.

Mas Uta, kini aku telah kehilangan dirimu, yang selalu menghibur hatiku dan menemani hariku, tak pernah sedikitpun cintaku menghilang untukmu. Cinta yang tulus dari hati ini akan tetap ada sampai kapanpun, sampai akhir hayatku. Mas Uta, walaupun engkau telah melukai hatiku, bagiku engkau adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki. 

Mas, inilah persembahan terakhir dariku untukmu, sebuah batu nisan yang kuukir dengan sejuta kenangan yang telah engkau berikan kepadaku, baik manis ataupun pahit semuanya akan selalu kukenang. Uti sayang mas Uta, selamat jalan mas Uta.

No comments:

Post a Comment

Untuk kamu, iya, kamu, yang udah mau baca tulisan gue, makasih banget ya.
Tolong dikomentari ya, supaya tulisan-tulisan gue bisa lebih bagus lagi. Komentarnya yang sopan dan ga menyingung, atau akan gue hapus.
Buat yang mau nge-Copy tulisan gue boleh kok, asal ditulis siapa penulis aslinya dan link aslinya.
Makasih.